Suara Merdeka, 19 Juni 2007
Orang yang yakin terhadap sesuatu, belum tentu tahu apa yang diyakininya. Orang yang percaya terhadap sesuatu, belum tentu tahu apa yang dipercayainya. Orang yang merasa tahu tentang sesuatu termasuk yang diyakininya belum tentu dia sebenarnya tahu tentang sesuatu itu. Juga sesuatu yang diyakini atau dipercayai oleh seseorang belum tentu benar.Sebagai ilustrasi, sejak kelas 1 SD kebanyakan sudah dididik untuk merasa tahu sesuatu (bahkan mempercayai sesuatu yang belum tentu benar). Contoh, dalam buku latihan membaca/menulis anak kelas 1 SD ada gambar seorang anak yang di bawahnya bertuliskan “ini budi”. Anak-anak kelas 1 SD diajari untuk membaca dan menulis “ini budi”.
Seharusnya yang benar adalah “gambar budi” sehingga seharusnya tulisan di bawahnya berbunyi “ini gambar budi”. Lebih lanjut, apakah benar anak yang digambar itu bernama “budi”. Tidak ada yang tahu, tetapi gambar itu dianggap “budi”, jadi semua yang membaca “ini budi” diminta percaya/yakin gambar itu adalah gambar anak bernama “budi”.
Ilustrasi tersebut tidak menyalahkan buku pelajaran, sebab yang terpenting anak belajar membaca dan menulis. Tetapi dapat diambil hikmahnya, bahwa ternyata secara tidak sadar pola pikir diajarkan untuk mempercayai/meyakini sesuatu yang bukan sebenarnya.
Kemungkinan akibatnya sebagian terpola untuk mempercayai/meyakini bahwa sesuatu tersebut adalah demikian adanya. Mempertanyakan/mengkaji lebih jauh apakah hal/sesuatu itu memang benar demikian, termuat pada pepatah dalam bahasa Inggris, read between the lines.
Jadi, jika ada orang atau sekelompok merasa tahu atau merasa benar dan kemudian menganggap orang lain/kelompok lain tidak benar/sesat, belum tentu kalau mereka memang tahu/benar.
Tetapi yang terjadi, ada kelompok masyarakat yang merasa tahu dan merasa benar dan bertindak sebagai hakim bagi kelompok masyarakat yang lain yang dianggapnya tidak benar.
Akibatnya ada kelompok masyarakat yang “tertindas” oleh peng-hakim-an kelompok lain. Sesungguhnya, penilaian benar atau tidak, karena anggapan dan … anggapan adalah katanya (Jawa: jare-ne). Apakah yang “jare-ne” itu benar? Seperti halnya “ini budi” hanya anggapan bahwa anak yang digambar itu bernama “budi”, dan itu jare-ne penulis buku pelajaran SD.
Guru dan murid kelas 1 SD diminta (atau terpaksa) untuk percaya/yakin terhadap jare-ne penulis buku pelajaran itu. Seperti guru dan murid kelas 1 SD, sehari-hari kita diminta percaya/yakin pada “jare-ne”. jare-ne orang lain, jare-ne tokoh masyarakat, jare-ne tokoh agama, jare-ne buku dan seterusnya. Dari banyak jare-ne itu kita menjadi merasa tahu dan merasa benar. Apakah sesungguhnya kita sudah tahu dan sudah benar?
Petrus Wijayanto
[...] Singkatnya, matanglah seekor tokek dalam minyak panas. Aku makan dagingnya, ternyata alot. Ya sudah gitu saja.. sekarang aku sudah “tahu sendiri, merasakan sendiri” (ini hal yang ditekankan dalam sebuah komunitas Kawruh Jiwa yang aku ikuti, bahwa untuk menjadi tahu, tidak sekedar merasa tahu atau sekedar yakin walau tidak tahu, maka kita perlu ‘tahu sendiri, merasakan sendiri‘) — coba baca juga tulisanku disini [...]
Pingback by Daging tokek ternyata alot : P(etrus) WIJAYANTO’s Page — October 16, 2008 @ 5:31 pm |