Hati Nurani
Suara Merdeka, 13 September 2007
Ketika membaca berita KA Gumarang terguling di Tegowanu, Grobogan akibat relnya digergaji, banyak yang bertanya apakah orang yang menggergaji rel itu tidak punya hati nurani. Sama seperti mempertanyakan para perancang/pelaku bom bunuh diri yang membunuh banyak orang, apakah juga mereka tidak punya hati nurani. Setiap orang memiliki hati nurani.
Ada pendapat, hati nurani adalah suara Tuhan. Nah masalahnya adalah Tuhan itu seperti apa yang kita pikirkan. Ketika kita berpikir bahwa Tuhan maha kasih, maka hati nurani pun akan memiliki rasa kasih. Suara hati nurani tergantung siapa yang kita “Tuhan-kan” sehingga sebenarnya hati nurani terbentuk dari berbagai pengalaman (catatan) yang tertanam dalam diri kita Karena sejak kecil kita diajari, berbohong salah/dosa. Karenanya hati nurani akan mengingatkan agar jangan berbohong. Kalau diajarkan bahwa membunuh/mencelakai orang lain adalah perbuatan tidak baik, maka hati nurani akan mengingatkan agar kita tidak membunuh/mencelakai orang lain. Ketika ajaran itu diganti (dan merasuk dalam diri) bahwa mencelakai orang lain adalah perbuatan yang unggul/membanggakan, maka hati nurani akan mengatakan: “bunuhlah/celakailah orang lain”. Lalu, bagaimana solusi untuk mengatasi persoalan yang ditimbulkan oleh orang yang tidak punya hati nurani ini?. Tentu saja dihukum setimpal dengan perbuatannya. Tetapi apakah hukuman penjara (kecuali hukuman mati) dapat membuat orang itu bertobat. Mungkin ya mungkin tidak, tetapi penjara bahkan bisa juga menghasilkan residivis. Mencelakai orang lain adalah perbuatan yang tidak baik dan harus diberi pelajaran. Lalu siapa yang seharusnya memberi pelajaran, ya orang lain yang dihormatinya. Celakanya jika orang yang dihormati itu malah “merestui” perbuatan mencelakai orang lain dengan berbagai alasan. Pertanyaan buat semua, sudahkah kita mendidik anak-anak dengan baik. Bahwa mencelakai orang lain itu adalah salah. Orang lain itu sesama kita dan manusia juga umat Tuhan. Tuhan menghendaki kita mengasihi orang lain dan mengasihi itu tidak diwujudkan dengan mencelakai orang lain. Jika kita tidak mendidik anak-anak dengan pelajaran seperti itu, jangan kaget kalau nantinya menjadi “tidak punya hati nurani”.
Petrus Wijayanto
http://www.suaramerdeka.com/harian/0709/13/opia.htm

hati nurani itu potensi, akan menjadi aksi ketika dibimbing….ya?