Home > suara merdeka > Toleransi

Toleransi

Suara Merdeka, 10 Oktober 2007

Sebuah kata yang mudah ditulis dan diucapkan namun sulit dilaksanakan. Toleransi adalah empati pada keberbedaan orang lain. Toleransi merupakan wujud pengakuan pada Tuhan, pada pemahaman akan Tuhan yang benar pencipta kepelbagaian. Tuhan tidak menciptakan seragam dan semua sama.


Dari bukti keberagaman ciptaan-Nya, kita dapat tahu bahwa Tuhan pun mungkin senang dengan keberagaman. Jika Tuhan memberikan hal yang sama atau selalu menuruti keinginan manusia, dunia ini akan kacau. Bayangkan misal penjual perahu karet akan “senang” jika banjir, tapi orang lain tidak menyukai banjir. Petani membutuhkan hujan, tetapi petambak garam membutuhkan panas.
Penganut agama yang sedang berpuasa tidak membutuhkan warung makan di siang hari, tetapi ada orang-orang yang tetap menginginkan warung tetap buka, karena sedang tidak berpuasa. Pertanyaannya, siapa yang seharusnya memberikan empati atau toleransi?
Petani yang membutuhkan hujan yang harus maklum jika tidak turun, karena terik matahari sedang dibutuhkan petambak garam. Atau petambak garam yang harus bertoleransi jika hujan turun karena itulah yang dibutuhkan para petani. Kecenderungan manusia yang dihinggapi rasa individualisme atau kelompokisme, menghendaki orang lain yang bertoleransi.
Orang yang sedang berpuasa, sering menghendaki orang lain yang tidak berpuasa menghormati kepuasaannya. Sebaliknya yang tidak sedang berpuasa juga berpikir bahwa orang yang berpuasalah yang seharusnya menghormati yang tidak berpuasa.
“Kenapa saya yang repot menutup warung, menahan lapar, padahal mereka yang berniat menjalankan puasa, bukan saya?”.
Saling toleransi dibutuhkan untuk menjaga agar kehidupan ini tetap berjalan harmonis. Toleransi tidak memaksakan pendapat/keinginan pada orang lain. Toleransi menerima keberbedaan. Sayangnya, pendapat/keinginan individu/kelompok tertentu kadang menjadi pembenaran untuk menghakimi orang lain yang berbeda.
Tuhan pun bertoleransi (memberi kebebasan) pada manusia yang tidak mengakui-Nya. Buktinya ada orang atheis bahkan para pemuja setan pun diizinkan hidup. Tuhan saja tidak memaksa manusia taat kepada perintah-Nya. Jika Tuhan saja bertoleransi, bukankah umat-Nya juga harus bertoleransi atau apakah kita ingin jadi penasihat Tuhan?

Pasted from http://www.suaramerdeka.com/harian/0710/10/opia.htm

Categories: suara merdeka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.