Petrus Wijayanto ’s Archives

January 4, 2008

Hilangkan Fanatisme dengan Kawruh Jiwa

Filed under: suara merdeka — suratpembacaku @ 10:30 am

Suara Merdeka, 4 Januari 2008

Kawruh Jiwa diwariskan oleh Ki Ageng Suryomentaram, salah satu “filsuf Jawa”. Sebagai sebuah filsafat, Kawruh Jiwa sering disalahmengerti sebagai kejawen atau aliran kepercayaan/ kebatinan. Padahal itu bukan kejawen, bukan kebatinan dan bukan kepercayaan serta juga bukan agama. Sebenarnya nilai-nilai di dalamnya tidak kalah dengan filsafat barat.

Salah satu kekurangannya hingga saat ini adalah metode pengajarannya yang belum sistematis dan belum ada metode baku untuk mempelajari. Akibatnya pemahaman tiap pelajarnya (sebutan bagi pemerhati Kawruh Jiwa) menjadi berbeda sesuai daya tangkap masing-masing orang.

Kawruh ini mempelajari tentang rasa diri dan bagi yang sudah mendapatkan, hasilnya adalah pengendalian diri luar biasa, yang dikenal dengan istilah “pangawikan pribadi”. Contoh, pengendalian diri yang dimiliki para pelajar adalah tanpa dhemen sengit, artinya menerima segala sesuatu tidak dengan rasa suka atau sebaliknya dengan rasa benci.

Tingkatan ini dapat dicapai jika seseorang bisa mengendalikan keinginannya (karep). Sebab jika sesuatu sesuai dengan keinginan maka yang muncul adalah rasa suka. Sebaliknya jika tidak sesuai dengan keinginan akan muncul rasa benci. Pengendalian terhadap keinginan, dapat menciptakan rasa tanpa dhemen sengit.

Pembelajaran Kawruh Jiwa menganut prinsip tanpa guru tanpa murid (tidak ada guru, tidak ada murid) dan salah satu prinsip penting yang selalu dipegang adalah tanpa nesu/ora nganggo nesu (tanpa marah), sehingga proses pembelajaran kawruh ini penuh dengan suasana demokratis dan damai.

Mereka menganggap orang lain adalah sesama yang memiliki “sesuatu” yang sama dengan diri sendirinya.

Fanatisme terhadap keyakinan tertentu, juga bisa berkurang bahkan hilang jika nilai kawruh ini sudah dihayati, karena keyakinan yang dipegang teguh oleh seseorang biasanya akibat percaya pada jarene (katanya) orang lain/tokoh masyarakat/buku atau bahkan katanya diri sendiri.
Mereka merasa bahwa keyakinannya paling benar, paling baik. Padahal rasa paling benar atau paling baik, dasarnya adalah keinginan. Kalau sesuai dengan keinginan, menjadi benar/baik tapi bila tidak sesuai jadi salah/buruk. Jika dapat mengendalikan keinginan diri sendiri dan memahami keinginan orang lain niscaya fanatisme yang sering diwujudkan dengan penghakiman pada orang lain, akan menjadi sesuatu yang tabu.

Jika ada yang berminat mempelajari lebih lanjut tentang Kawruh Jiwa, ada beberapa orang di berbagai kota yang dapat dihubungi.
Beberapa nama kami cantumkan di website http://ilmubahagia.salatiga.biz, siap menjadi teman diskusi seputar Kawruh Jiwa yang bisa memberikan pencerahan bagi banyak orang.

P Wijayanto (08122810181)
Jl Seruni 5, Salatiga

Pasted from http://suaramerdeka.com/harian/0801/04/opia.htm

3 Comments »

  1. Rasanya damai ya kalau orang bisa berdiskusi tanpa nesu. Indonesia bisa damai seperti dulu lagi.

    Rasanya sekarang ada rasa takut kalau pergi ke tempat-tempat tertentu yang punya nilai fanatisme tinggi.

    Comment by Salatiga — March 4, 2009 @ 8:43 am | Reply

  2. [...] atau juga yang ini [...]

    Pingback by Aku setuju, HAPUS “agama” dari KTP : P(etrus) WIJAYANTO’s Page — May 11, 2009 @ 6:17 pm | Reply

  3. Aku setuju kalau KJ bisa mengurangi fanatisme trhadap keyakinan sendiri, yang sudah dipunyai. Tetapi jangan lupa bahwa akan timbul bahaya fanatisme baru, yaitu fanatsime terhadap KAS dan KJ. Banyak yang sudah pelajar KJ yang mulai mempertanyakan ” Tuhan ” itu ada apa tidak ? KJ memang tidak akan menjawab, tetapi dampak tersebut perlu di antisipasi, supaya KJ tidak adianggap aliran sesat. Sekarang lagi musim saling menuduh

    Comment by kiprijo — September 27, 2009 @ 10:29 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.