Tidak Perlu Hari Bersepeda Nasional
KOMPAS (Jateng) – 5 Agustus 2010
Usulan adanya Hari Bersepeda Nasional di Rubrik ini, mungkin bagus jika dipandang dari sudut pandang tertentu saja. Pedagang sepeda dan accesories-nya, juga pabrik sepeda, hampir pasti menyetujui usulan ini. Tetapi bagaimana masyarakat yang akan “terpaksa” harus bersepeda di hari bersepeda nasional tersebut?
Kita jangan hanya memandang “kota kita” atau “daerah kita” sendiri. Indonesia begitu luas, dan ada wilayah-wilayah yang tidak cocok sama sekali menggunakan sepeda sebagai moda transportasi. Wilayah-wilayah di lereng gunung, jelas tidak cocok untuk bersepeda harian. Apakah wilayah-wilayah itu harus dikecualikan dari kata “nasional”?
Saya penggemar sepeda, dan selain untuk olahraga kalau hari Sabtu/Minggu, kadang saya juga berangkat ke tempat kerja menggunakan sepeda. Namun saya sendiri yang memutuskan, apakah akan jalan kaki, bersepeda, bersepedamotor atau bermobil. Kebutuhan bersepeda, tidak harus menggantikan sama sekali kebutuhan bersepedamotor atau bermobil, karena memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Perlu dicatat, bahwa bersepeda, pada sebagian kalangan hanya menjadi ajang gengsi dengan berlomba memiliki sepeda berharga mahal, walau minim pemakaian. Hari bersepeda, hanya akan menjangkitkan virus gengsi ini, karena beberapa orang akan “terpaksa” membeli sepeda untuk memenuhi kewajiban bersepeda pada hari tertentu.
Akan lebih demokratis jika masyarakat dipersilakan memilih apakah mau bersepeda atau tidak, dan untuk mengakomodasi atau memancing minat masyarakat untuk bersepeda (khususnya ke tempat kerja – bukan hanya pada kegiatan-kegiatan sepeda santai dalam rangka kegiatan tertentu), berikan insentif untuk para pesepeda.Misalnya dibuat aturan bahwa kantor/perusahaan harus menyediakan tempat parkir untuk sepeda, dengan jumlah yang memadai, misalnya minimal 10% dari jumlah pegawai kantor tersebut.
Buat Perda yang mengatur parkir sepeda gratis. Beri jalur sepeda di jalan raya. Insentif-insentif seperti itu mungkin dapat menumbuhkan minat bersepeda yang sebenarnya, bukan ilusi “ramah lingkungan” yang hanya tampak pada kegiatan ‘sepeda sehat/santai”, dimana para pesertanya juga bermobil/truck untuk mengangkut sepeda.
Petrus Wijayanto
Jl. Seruni no. 5 Salatiga

Recent Comments